SHOLAT GERHANA


SHOLAT KUSUF
Pengertian Sholat Kusuf
Pengertian sholat menurut bahasa adalah berdoa (memohon). Sedang menurut syariat sebagaimana kata imam Syafi’i sholat ialah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, disertai dengan syarat yang sudah ditentukan. Syarat inilah yang membedakan dengan ritual ibadah lain seperti sujud syukur dan sujud tilawah.
Sholat dalam agama Islam menempati kedudukan yang tak dapat ditandingi oleh ibadah yang lainnya. Sholat merupakan tiang agama dimana tiang agama tak dapat tegak kecuali dengan sholat. Sholat juga merupakan amalan hamba yang pertama dihisab
Sedangkan kusûf dalam istilah fuqaha dinamakan. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa.
Jadi secara ringkas pengertian sholat kusuf adalah shalat gerhana yaitu shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya.

Hal-Hal yang Dianjurkan Ketika Terjadi Gerhana

Pertama: perbanyaklah dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari)

Kedua: keluar mengerjakan shalat gerhana secara berjama’ah di masjid. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini sebagaimana dalam hadits dari ’Aisyah bahwasanya Nabi Muhamad SAW mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah gerhana. Lalu Nabi Muhamad SAW melewati kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan shalat. (HR. Bukhari). Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi Muhamad SAW mendatangi tempat shalatnya (yaitu masjidnya) yang biasa dia shalat di situ.
Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhamad SAW adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.”
Lalu apakah mengerjakan dengan jama’ah merupakan syarat shalat gerhana? Perhatikan penjelasan menarik berikut.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, ”Shalat gerhana secara jama’ah bukanlah syarat. Jika seseorang berada di rumah, dia juga boleh melaksanakan shalat gerhana di rumah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi Muhamad SAW,
فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا
”Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits ini, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam tidak mengatakan, ”(Jika kalian melihatnya), shalatlah kalian di masjid.” Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa shalat gerhana diperintahkan untuk dikerjakan walaupun seseorang melakukan shalat tersebut sendirian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa menunaikan shalat tersebut secara berjama’ah tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama jika shalat tersebut dilaksanakan di masjid karena Nabi Muhamad SAW mengerjakan shalat tersebut di masjid dan mengajak para sahabat untuk melaksanakannya di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah akan lebih menambah kekhusu’an. Dan banyaknya jama’ah juga adalah sebab terijabahnya (terkabulnya) do’a.”

Ketiga: wanita juga boleh shalat gerhana bersama kaum pria. Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,
أَتَيْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ
“Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: ‘Kenapa orang-orang ini?’ Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, ‘Subhanallah (Maha Suci Allah).’ Saya bertanya: ‘Tanda (gerhana)?’ Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari)
Bukhari membawakan hadits ini pada bab:
صَلاَةِ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ فِى الْكُسُوفِ
”Shalat wanita bersama kaum pria ketika terjadi gerhana matahari.”

Sementara Ibnu Hajar mengatakan,
أَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَة إِلَى رَدّ قَوْل مَنْ مَنَعَ ذَلِكَ وَقَالَ : يُصَلِّينَ فُرَادَى
”Judul bab ini adalah sebagai sanggahan untuk orang-orang yang melarang wanita tidak boleh shalat gerhana bersama kaum pria, mereka hanya diperbolehkan shalat sendiri.”
Kesimpulannya, wanita boleh ikut serta melakukan shalat gerhana bersama kaum pria di masjid. Namun, jika ditakutkan keluarnya wanita tersebut akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka sebaiknya mereka shalat sendiri di rumah.

Keempat: menyeru jama’ah dengan panggilan “ash sholatu jaami’ah” dan tidak ada adzan maupun iqomah. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan,

أنَّ الشَّمس خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَبَعَثَ مُنَادياً يُنَادِي: الصلاَةَ جَامِعَة، فَاجتَمَعُوا. وَتَقَدَّمَ فَكَبرَّ وَصلَّى أربَعَ رَكَعَاتٍ في ركعَتَين وَأربعَ سَجَدَاتٍ.

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim ).

Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana.

Kelima: berkhutbah setelah shalat gerhana. Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat . Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ: ”إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”. ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “.

Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” Nabi selanjutnya bersabda, ”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari,)

Sedangkan khutbah yang dilakukan adalah sekali sebagaimana shalat ’ied, bukan dua kali khutbah. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Imam Asy Syafi’i.

TUNTUNAN SHALAT GERHANA
Allah berfirman,
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui” (Yunus:5)

Dan Dia juga berfirman ,
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (Fushilat:37)

Ketika terjadi gerhana matahari di jaman Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau keluar dengan bergegas, menarik bajunya, lalu shalat dengan manusia, dan memberitakan kepada mereka: bahwa gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dengan gerhana tersebut Allah menakut-nakuti para hamba-Nya; boleh jadi merupakan sebab turunnya adzab untuk manusia, dan memerintahkan untuk mengerjakan amalan yang bisa menghilangkannya. Beliau memerintahkan untuk mengerjakan sholat, berdo’a, istighfar, bersedekah, memerdekakan budak, dan amalan-amalan shalih lainnya ketika terjadi gerhana; hingga hilang musibah yang menimpa manusia. Dalam gerhana terdapat peringatan bagi manusia dan ancaman bagi mereka agar kembali kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya. Mereka di zaman jahiliyyah meyakini bahwa gerhana terjadi ketika lahirnya atau matinya seorang pembesar. Maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membantah keyakina tersebut dan menjelaskan tentang hikmah ilahiyyah pada terjadinya gerhana.
Al Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Mas’ud Al Anshari berkata ,
“Terjadi gerhana matahari pada hari meninggalnya Ibrahim Bin Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka manusia mengatakan, “Terjadi gerhana matahari karena kematian Ibrahim”. Maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terkena gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang, jika kalian melihat yang demikian itu, maka bersegeralah untuk ingat kepada Allah dan mengerjakan Sholat” “.
Dalam hadits lain dalam Ash Shahihain, ,
“Maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah Sholat hingga matahari terang”.
Dari Shahih Al Bukhari dari Abu Musa, (artinya),
“Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini bukanlah karena kematian atau kehidupan seseorang, tetapi Allah sedang manakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya, maka jika kalian melihat sesuatu yang demikian itu, bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a dan meminta ampun kepada-Nya”.

Waktu shalat gerhana: dari mulai terjadinya gerhana sampai hilang berdasar sabda beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam , “Apabila kalian melihat (artinya: sesuatu dari peristiwa tersebut), maka shalatlah”. (Mutafaqqun ‘Alaih)
Dan dalam hadits lainnya , “Dan jika kalian melihat yang demikian itu maka sholatlah hingga matahari kelihatan”. (Diriwayatkan oleh Muslim)
Shalat gerhana tidak diqadha setelah hilangnya gerhana tersebut, karena telah hilang waktunya. Jika gerhana telah hilang sebelum mereka mengetahuinya, maka mereka tidak perlu melakukan shalat gerhana.
HUKUM SHALAT GERHANA
Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan hukumnya adalah sunnah muakkad (ditekankan). Jadi dianjurkan bagi seorang muslim untuk mengerjakannya dengan ditekankan dan hal tersebut ditunjukkan oleh dalil berikut,
Dari ‘Aisyah rodhiyallohu’anha, dia berkata :
”Pada masa Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi Wassalam pernah terjadi gerhana matahari, maka Rosululloh mengerjakan shalat bersama manusia lalu beliau memperpanjang berdiri, kemudian beliau rukuk dan memperpanjang rukuknya. Lalu beliau berdiri kemudian memperpanjang berdiri, namun lebih pendek dari berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk lagi dan memperpanjang rukuk, namun lebih pendek dari rukuk yang pertama. Beliaupun sujud dan memperpanjang sujudnya, kemudian melakukan pada rakaat kedua seperti yang beliau lakukan pada rakaat pertama. Beliau selesai shalat dalam keadaan matahari telah nampak. Lalu beliau berkhutbah pada manusia. beliaupun memuji ALLAH dan menyanjungNya, lalu beliau berkata :
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda-tanda dari kebesaran ALLAH, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dam tidak pula karena lahirnya seseorang.Maka jika kalian melihat hal intu hendaknya kalian berdoa kepada ALLAH, bertakbirlah, kerjakannlah shalat dan bersedekahlah”
kemudian beliau berkata, ” Wahai umat Muhammad, demi ALLAH tidak ada yang peling cemburu dari ALLAH jika ada hambaNya yang laki-laki berzina atau hambaNya yang perempuan berzina, wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis..” (HR. Bukhari Muslim : Hadist shahih)
Sisi hadist ini adalah bahwasanya perintah shalat ini dikaitkan dengan perintah untuk bertakbir, berdoa, dan bersedekah dan tidak ada yang berpendapat wajibnya bersedekah, bertakbir, dan berdoa ketika gerhana. Jadi perintah ini adalah musthahab secara ijma demikina pula dengan perintah untuk shalat yang terkait dengannya (Bada”iul Fawaid )
Salat Gerhana sebenarnya adalah sama saja dengan shalat malam salat ‘idain dan shalat sunnah yg lain. Hanya saja shalat ini kurang mendapat perhatian secara luas dari kalangan kaum muslimin berbeda dgn salat ‘idain. Hal ini barangkali lebih disebabkan karena mereka pada umumnya belum mengetahui sejauh mana salat ini dianjurkan oleh syariat. Dan dalilnya adalah As Sunnah yang tsabit dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
Gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah untuk menakut-nakuti para hamba-Nya. Allah berfirman ,
وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا
“Dan kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti” (Al Israa:59)

Sebab munculnya gerhana tersebut memang semata-mata merupakan bukti dari kekuasaan Allah SWT. Dalil-Dalil Dianjurkannya Salat Gerhana a. Dari al-Mughirah bin Syu’bah ra berkata “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW di saat Ibrahim meninggal lalu orang-orang saling berkata ‘Gerhana matahari terjadi karena meninggalnya Ibrahim’. Kemudian Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adl dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT tidak terjadi gerhana pada keduanya sebab kematian seseorang atau kehidupannya. Karena itu berdo’alah kepada Allah SWT dan lakukanlah salat sampai matahari itu terang kembali’.” . Redaksi hadis tersebut menggunakan kata ‘inkasafat’ apakah kata itu khusus untuk matahari atau juga untuk bulan?
Dalam hal ini ulama berbeda pendapat namun berdasarkan dalil yg tsabit bahwa apabila terjadi gerhana matahari maupun bulan tetap disunnahkan untuk melakukan shalat gerhana. Kemudian Imam Nawawi berkata “Ulama telah bersepakat bahwa salat gerhana itu hukumnya sunnah. Sedangkan menurut jumhurul ulama disunnahkan melakukannya dengan berjamaah sementara menurut al-Iraqiyyun disunnahkan melakukannya dgn sendiri-sendiri .
Dari Abu Bakarah ra “Maka salatlah dan berdoalah sampai itu terang kembali kepadamu.” .

Tehnik Pelaksanaan Salat Gerhana Salat gerhana
Berbeda dengan salat yg lain baik sunnah maupun fardhu. Jika salat ‘Idain itu dgn dua rakaat dan 12 takbir maka shalat gerhana itu dengan dua rakaat namun dengan berdiri 4 kali membaca Al-Fatihah dan surah 4 kali serta ruku’ 4 kali. Untuk lebih jelasnya perhatikan hadis-hadis di bawah ini :
• Dari Aisyah ra “Nabi saw mengeraskan bacaannya pada salat gerhana matahari lalu beliau salat empat rakaat dalam dua rakaat dan empat kali sujud”. Muttafaq Alaihi dan ini menurut lafal Muslim sedangkan menurut riwayat Muslim “.. lalu Nabi SAW mengutus seorang Bilal yg mengumandangkan ‘as-sholaatu jaami’ah’ .” Berdasarkan hadis ini pada salat gerhana matahari itu disunnahkan mengeraskan bacaan. Meski demikian dalam hal ini ada empat pendapat Pertama mengeraskan bacaan secara mutlak baik pada salat gerhana matahari maupun pada salat gerhana bulan. Dalilnya adalah hadis ini dan hadis yang lain. Pendapat ini adalah pendapatnya madzhab Ahmad bin Hanbal Ishaq Abu Yusuf dan Muhammad asy-Syaibani Ibnu Khuzaimah Ibnu al-Mundzir dan yang lain.
Kedua melirihkan bacaan secara mutlak berdasarkan hadis Ibnu Abbas ra “Bahwa Nabi saw berdiri sangat lama sepanjang surah Al-Baqarah. Imam al-Bukhari mengomentari dari Ibnu Abbas bahwa beliau berdiri di samping Nabi SAW dalam shalat gerhana matahari lalu dia tidak mendengarkan satu huruf pun dari Nabi SAW.
Ketiga seseorang bebas memilih antara keras dan pelan karena adanya kedua perintah tersebut dari Nabi SAW.
Keempat melirihkan bacaan pada gerhana matahari dan mengeraskan bacaan pada gerhana bulan. Ini pendapat Imam empat berdasarkan hadis Ibnu Abbas dan karena diqiyaskan dengan salat lima waktu.
• Dari Ibnu Abbas ra berkata “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw kemudian Rasulullah saw melakukan salat lalu berdiri sangat lama sepanjang surah Al-Baqarah kemudian ruku’ dengan sangat lama lalu bangun kemudian berdiri sangat lama akan tetapi agak pendek dari berdiri yang pertama kemudian ruku’ dengan sangat lama akan tetapi agak pendek dari ruku’ yang pertama kemudian sujud. Kemudian berdiri sangat lama akan tetapi agak pendek dari berdiri yang pertama kemudian ruku’ sangat lama tetapi agak pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian bangun lalu berdiri dengan sangat lama tapi agak pendek dari berdiri yang pertama kemudian ruku’ dengan sangat lama tapi agak pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian mengangkat kepalanya lalu sujud kemudian salam dan matahari telah terang kembali kemudian Nabi saw berkhotbah kepada manusia.” Muttafaq Alaihi dan lafal hadisnya dari al-Bukhari. Menurut riwayat Muslim “Nabi saw salat delapan rakaat dalam empat sujud ketika terjadi gerhana matahari.” dan Asy-Syafi’i menyebutkan dari Ali ra seperti hadis itu bukan potongan hadis yg terakhirnya. Asy-Syafi’i dan yg lain berpendapat dalam salat tersebut tidak disunnahkan berjamaah dan apabila seseorang melakukannya dgn sendirian maka itu baik. Beliau beralasan krn tidak diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau perintah agar melakukannya dengan jamaah kecuali dalam salat gerhana matahari dan bulan.
• Sumber Subulus Salaam Muhammad bin Ismail as-Shan’ani Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sifat Shalat Gerhana dan Jumlah Raka’at :
1. Tidak adzan dan iqomat bagi shalat gerhana Para ulama telah bersepakat bahwasanya tidak adzan dan tidak ada iqomat bagi shalat gerhana, yang disunnahkan adalah dengan menyeru “Ash Shalatu Jami’ah” Dalil dari hal itu adalah apa yang tetap dari ‘Abdullah bin ‘Amr , “Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rosulullah ada yang menyeru ; Ash Shalatu Jami’ah..” (Hadist shahih, HR.Bukahari Muslim_jami’ul ushul)
2. Jumlah Raka’at Shalat Gerhana Shalat gerhana dilaksanakan 2 raka’at dengan dua rukuk dan dalil atas hal tersebut adalah apa yang disampaikan oleh Aisyah rodhiyallohu’anha (hadist diatas) dan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas : ” Pada masa Rosululloh pernah terjadi gerhana matahari, maka beliau m engerjakan shalat dengan berdiri yang panjang sekitar bacaan surat Al Baqarah,beliau rukuk dan memperpanjang rukuknya. Lalu beliau berdiri kemudian memperpanjang berdiri, namun lebih pendek dari berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk lagi dan memperpanjang rukuk, namun lebih pendek dari rukuk yang pertama, lalu beliau sujud kemudian ketika beliau selesai matahari telah nampak….” (hadist shahih_ HR.Bukhari Muslim)
3. Mengeraskan Bacaan Shalat Gerhana Bacaan shalat gerhana adalah dengan mengeraskan sebagimana yang dilakukan oleh baginda Nabi , ” Nabi Shallallohu ‘Alaihi Wassalam mengeraskan bacaan pada shalat gerhana…”
4. Dikerjakan Secara Berjama’ah di Masjid Yang sesuai dengan As Sunnah pada shalat gerhana adalah dengan mengerjakannya secara berjam’ah di masjid.
” Pada masa hidup Rosululloh pernah terjadi gerhana matahari, maka Rosululloh keluar menuju masjid lalu beliau bengkit dan bertakbir sementara kaum muslimin berbaris membuat shaf di belakang beliau…”
5. Jika Seseorang Ketinggalan Salah Satu dari Dua Rukuk pada Satu Rakaat Shalat gerhana dikerjakan 2 raka’at, masing-masing raka’at dengan 2 rukuk dan 2 sujud. jadi secara keseluruhan shalat ini terdiri dari 4 rukuk dan 4 sujud di dalam 2 raka’at.

Dan barang siapa yang mendapatkan rukuk yang kedua pada raka’at pertama berarti dia tidak mendapatkan berdiri, bacaan dan ukuk. Atas dasar ini, dia belum teranggap melakukan salah satu dari dua rakaat shalat gerhana, jadi dia tidak terhitung dengan rakaat ini. Dan setelah imam salam, dia diwajibkan untuk melakukan satu rakaat lagi dengan dua rukuk sesuai dengan apa yang tetap di dalam hadit yang shahih.

Tentang ALI SADAD

Seorang lajang yang masih peduli dengan komitmen untuk senantiasa belajar....
Tulisan ini dipublikasikan di AGAMA. Tandai permalink.